Bersatu Membantu Pengungsi Palestina

Bantuan untuk pengungsi Palestina akan tetap tersalurkan. (Foto: AFP).

New York: United Nations Refugee Work and Relief Agency for Palestinian Refugees (UNRWA) atau Badan PBB untuk Pengungsi Palestina kekurangan dana usai sebagian besar bantuan dicabut oleh Amerika Serikat (AS).
 
Namun dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (SU PBB), donor internasional menjanjikan UNRWA dengan dana sebesar USD118 juta atau sekitar Rp1,7 triliun. Dana itu untuk membantu UNRWA mengatasi apa yang disebutnya sebagai ‘krisis keuangan terbesar dan paling menakutkan yang pernah ada.’
 
Didirikan oleh Sidang Majelis Umum PBB pada 1949, badan UNRWA ini memberikan bantuan dan perlindungan kepada lebih dari lima juta pengungsi Palestina yang terdaftar di Gaza, Tepi Barat, Suriah, Lebanon dan Yordania.
 
Tahun ini, badan tersebut menghadapi kekurangan pendanaan akut setelah Amerika Serikat memutuskan untuk mengurangi kontribusinya sebesar USD300 juta atau Rp4,4 triliun. AS merupakan salah satu pendonor terbesar bagi UNRWA.
 
“Pengumuman dana tambahan USD118 juta merupakan langkah yang sangat signifikan untuk mengatasi krisis keuangan terbesar dan paling parah yang pernah dialami UNRWA,” kata Komisaris Jenderal UNRWA, Pierre Krähenbühl, di New York, seperti dikutip AFP, Jumat 28 September 2018.
 
Krähenbühl mengatakan tingkat partisipasi dalam pertemuan Kamis 26 September mengirim pesan kepada para pengungsi Palestina bahwa mereka tidak dilupakan. Pertemuan diadakan di pinggiran sesi tingkat tinggi tahunan Sidang Majelis Umum, dan mobilisasi kolektif untuk membantu UNRWA mengatasi krisis keuangannya.
 
Meskipun berbagai upaya dalam beberapa bulan terakhir, UNRWA masih memiliki defisit sebesar USD 68 juta atau Rp1 triliun.
 
“Kami telah berurusan dengan bagian dari tantangan hari ini, yang mencoba untuk bergerak lebih dekat untuk mengatasi defisit anggaran yang ada,” kata Menteri Luar Negeri Yordania Ayman H. Safadi, yang menjadi tuan rumah pertemuan bersama dengan Turki, Swedia, Jepang, Jerman, dan Uni Eropa.
 
“Saya pikir tantangannya adalah untuk mempertahankan upaya ini dan saya pikir sebagian dari apa yang kita diskusikan hari ini adalah cara di mana kita bisa memiliki perencanaan keuangan jangka panjang sehingga setiap tahun pada Agustus anak-anak Palestina tidak bertanya-tanya apakah mereka akan pergi ke sekolah atau tidak,” tutur Safadi.
 
Indonesia komitmen bantu UNRWA
 
Dengan keadaan ini, Indonesia berkomitmen akan terus membantu UNRWA dalam konteks pendanaan. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menegaskan bantuan pendanaan untuk UNRWA
 
Sejak awal tahun, Pemerintah Indonesia sudah memberikan bantuan untuk UNRWA hingga USD200 ribu atau sekitar Rp2,9 miliar.
 
Baca juga: Indonesia Terus Bantu Pendanaan UNRWA Palestina.
 
Pada Sidang Majelis Umum PBB, Indonesia membantu menggalang dana untuk lembaga tersebut. Hal ini disampaikan Menlu Retno pada Pada pertemuan tingkat menteri Gerakan Non Blok (GNB).
 
Menlu Retno terus mendorong agar negara GNB dapat menjadi sumber terbesar dukungan kepada rakyat Palestina. Mengingat salah satu visi dan tujuan utama GNB adalah untuk mewujudkan perdamaian dunia.
 
“Saya terus dorong negara anggota GNB yang belum mengakui Palestina untuk segera melakukannya,” tegasnya, dalam keterangan tertulis Kemenlu RI, Kamis 26 September.
 
Mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Belanda itu menegaskan, bahwa ukuran kunci bagi GNB dalam mendukung kemerdekaan Palestina adalah dukungan untuk two state solution atau solusi dua negara. Selain juga menjamin solusi baik jangka pendek dan panjang untuk Rakyat Palestina.
 
Baca juga: Indonesia Terus Dukung Perjuangan Palestina di UNGA 73.
 
Menlu turut menegaskan kembali komitmen Indonesia untuk UNRWA saat bertemu dengan Komisioner Jenderal UNRWA, Pierre Krähenbühl. Komitmen tersebut, tercermin dari penambahan sumbangan sukarela Indonesia dan membantu memobilisasi sumber dana dari masyarakat sipil untuk UNRWA.

(FJR)